“I
don’t care. Kamu tahu tidak Ka? Ketika lelaki itu sudah berubah dan lama-lama
menjauh, berarti ada perempuan lain disana.”
Ada-ada
saja yang terpikirkan ketika sendirian. Apalagi ketika hati dalam keadaan tak
menentu. Semua yang ada di sekitar kita terasa ikut berbicara. Mungkin
kenyataanya tidak benar-benar berbicara, tapi keadaan hati yang melow
membuat angin semakin mendayu-dayu dari yang biasanya. Sepertinya hari ini agak
berbeda.
Mata
kuliah pertama hari ini telah usai. Metodologi penelitian hukum. Awalnya aku
sangat khawatir kalau saja aku tidak dapat memahami perkuliahan kali ini.
Maklum, karena dosennya 3 minggu tidak hadir, membuat aku dan sebagian temanku
merasa blank dengan materi yang telah lalu. Namun kekhawatiran itu
hilang ketika bapak dosen hanya berbagi tips-tips mudah dalam penyusunan
proposal skripsi. Ya, aku telah semester tua, yang bercita-cita lulus di semester
7. Setelah itu aku akan secepatnya kembali ke kampung halaman yang telah 3
tahun lebih ku tinggalkan. Dari barat Pulau Sumatera aku merantau menuju timur
Pulau Jawa. Meninggalkan keluarga, teman, dan seseorang yang pernah mengisi
ruang hati ini sepenuhnya, sampai ke sudut-sudutnya. Namun itu dulu, sebelum
terkhianati.
“Bil,
kemana?,” tanpa sadar, Ika memanggilku dari belakang, membuyarkan konsentrasiku
yang fokus ke depan.
“Perpus,”
teriakku singkat dari jauh, dan aku melihat ekspresi wajahnya. Sepertinya ia
tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan. Dan ia pun berlalu menuju asrama.
Sebagai
anak asrama, biasanya kebiasaan rutin seusai kuliah adalah bersama-sama menuju
belakang kampus untuk mencari sarapan, dan di sana sudah berjejer warung
makanan dengan harga sesuai ukuran mahasiswa. Namun untuk akhir-akhir ini,
bagiku perpustakaan menjadi tempat terpenting, bahkan harus dikunjungi setiap
hari. Sekalipun perut belum terisi.
Memasuki
perpustakaan ada hawa semangat yang menggebu-gebu dalam hatiku. “Semangat untuk
menyelesaikan.” Begitulah status facebook seorang kakak kelasku dahulu ketika
ia pun sedang berada di semsater tua. Tak lama aku mengitari perpustakaan, sekedar
mengembalikan buku dan menggantinya dengan buku-buku yang dikira mendukung
untuk proposalku minggu depan. Tidak butuh waktu lama untuk mencarinya, karena hampir
semua buku yang ingin ku cari sudah ku hafal di bagian mana letak rak bukunya.
Tak sampai 15 menit, aku pun keluar. Tak ada lagi tujuan lain, waktunya kembali
ke asrama. Karena perut sudah mulai bernyanyi.
Panasnya
Surabaya memang juara, apalagi ditambah dengan letak kamarku yang berada di
lantai 5, lantai teratas dari rusunawa ini yang berfungsi sebagai asrama ini,
butuh perjuangan untuk menaiki tangga satu persatu, karena masih 5 lantai, oleh
sebab itu tidak ada fasilitas lift. Begitulah kata kakak kelasku dulu, ketika
aku mengeluh harus menaiki tangga setiap hari. Setelah merapikan perkakas
kuliah, aku pun menaiki ranjang yang berada di tingkat atas, kamar ini layaknya
asrama haji yang pernah ku datangi, tiap kamar ada 2 tempat tidur dengan 2
tingkat, di tambah 1 meja dan 2 lemari. Seperti asrama kebanyakan. Setelah
menyalakan kipas angin, aku mencari telepon genggam yang sengaja ku tinggal.
Dan seperti yang telah ku duga, tidak ada 1 pesan pun yang masuk, apalagi
panggilan masuk. Sepi.
Sebenarnya
hanya ada 2 orang yang tahu nomor kontakku, papa dan dia. Dia yang sebenarnya
dulu selalu ku tunggu. Dimana setiap pagi sebelum berangkat kerja selalu
berpamitan padaku, dan begitu juga ketika istirahat siang, selalu menelponku,
dan tak lupa ketika pulang di sore hari, selalu memberi tahu. Tapi itu dulu,
ketika hubungan yang terjalin semenjak 3 tahun yang lalu masih terjaga tanpa
dusta. Dulu, ketika dia selalu menghiburku dan menyemangatiku ketika masalah
seakan tak berhenti datang padaku. Dulu, ketika aku merasa tidak ada lagi yang
peduli kepadaku, dia yang membuatku merasa jadi orang yang paling bahagia di
dunia. Dulu, ketika dengan manisnya dia memanggilku dengan panggilan
kesayangan, Halimah, sosok wanita yang dia sanjung dan dia manjakan. Tapi sekali
lagi itu dulu, sebelum ku tahu ternyata Halimah, bukan hanya aku.
###
Malam
pun menjelang. Pemandangan yang tadinya terasa gersang kini lebih menyenangkan
bagi yang memandang. Terlebih seperti aku yang berada di lantai teratas. Dari
jendela dapat dilihat indahnya kerlap-kerlip lampu dari rumah dan
bangunan-bangunan bertingkat di seantero Surabaya, ditambah dengan angin yang
bertiup merdu, menjadikan keresahan dari siang yang panas, menjadi hilang
seketika.
Agenda
setiap malamnya sama. Seperti biasa ku
hidupkan laptop kesayangan, dan bersiap untuk meluncur di dunia maya. Salah
satu keuntungan tinggal di asrama mahasiswa ini adalah selain dekat dengan
kampus, ada layanan wifi yang sangat membantu para mahasiswa. Kebanyakan dari
mereka memang sangat senang karena lebih mudah untuk online di jejaring sosial.
Namun tidak hanya untuk hiburan semata, wifi juga sangat membantu dalam mencari
tugas kuliah dan mencari informasi tentang berbagai kegiatan yang sekiranya
bisa diikuti. Contohnya aku. Aku tidak hanya menjadikan media online sebagai
media hiburan semata, tapi juga media pembelajaran. Khususnya menulis. Malam
ini aku bermaksud untuk mengumpulkan semua deadline dari event yang bisa
ku ikuti. Setelah semua jadwal telah tersusun dalam list, aku pun membuka email
untuk mengirimkan salah satu karyaku.
Awalnya
aku sedikit bingung dengan pesan masuk yang ada. Banyak nama-nama yang tidak ku
kenali. Namun setelah melihat satu persatu aku baru mengerti, bahwa akun email
yang sedang ku buka adalah email yang dipakai si dia untuk membuat akun facebooknya.
Dan alangkah terkenjutnya aku, bahwa dari percakapan yang tertera, ada bagian dimana
dia memanggil Halimah kepada teman online-nya yang bisa dikatakan
perempuan semua. Kaget, serasa tidak percaya, begitu teganya dia mengkhianati
perasaan yang telah ku bangun dengan rasa percaya dalam waktu tiga tahun,
hingga aku pernah rebut dengan papa karena tidak menyetujuinya. Aku telah
dikhianati orang yang telah ku perjuangkan dengan penuh air mata.
Akhirnya
aku mengerti sekarang, kenapa akhir-akhir ini dia berubah sedikit demi sedikit.
Ternyata ada Halimah yang lain. Aku mengerti sekarang, kenapa dia selalu susah
dihubungi ketika malam hari, aku juga mengerti kenapa tidak ada lagi panggilan
atau pesan singkat yang masuk darinya. Ternyata bukan hanya aku Halimah yang
dimanja, yang di sanjung dan dipuja. Ada Halimah lain yang membuatnya lupa
padaku yang telah terlanjur jatuh dalam lubang dusta. Aku telah dibohongi
dengan bukti yang teramat nyata. Halimah bukan aku semata.
Dan
kini aku mulai mengerti. Dari setiap cerita cinta yang terjadi pada
teman-temanku, kenapa ada masalah yang terjadi. Kenapa hubungan yang tadinya
seperti akan berjalan selamanya, harus terhenti. Kini aku mengerti bagaimana pahitnya
dikhianatai. Aku mengetahui rasanya hati yang disakiti. Dibohongi. Bukan lagi
karena rasa simpati kepada teman yang bercerita hingga air matanya tak bisa
berhenti. Tapi karena aku sendiri yang mengalami. Ketika mengingat kembali
kejadian dari isi email-email tadi, aku merasa sakit hati. Namun mungkin inilah
jalan yang terbaik. Aku memang tidak menanyakan hal ini padanya. Karena ku
yakin dia memang sudah melupakan semua kesetiaan yang pernah diucapkannya. Aku
pada awalnya tidak menerima. Namun ku tahu ini bukanlah waktunya untuk
benar-benar menjalani sebuah hubungan dengannya atau dengan siapapun. Ku yakin
Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya padaku tentang lelaki itu dengan menggerakkan
hatiku untuk membuka email waktu itu. Dan aku pun yakin, Tuhan ingin mengajarkan
padaku kesetiaan yang selama ini ternyata hanya dusta semata.
###
“Bagaimana
bil, kabar kakakmu?” Tiba-tiba Ika memecah kembali konsentrasiku.
“Kenapa
tiba-tiba kamu menanyakannya Ka?.” Aku heran, tiba-tiba saja Pakar Cinta yang
baru beberapa waktu lalu menerbitkan bukunya itu bertanya padaku.
“Haha,
habis biasanya statusmu galau terus, tapi sekarang jarang update, kenapa
ayo?.” Selidiknya.
“I
don’t care. Kamu tahu tidak Ka? Ketika lelaki itu sudah berubah dan
lama-lama menjauh, berarti ada perempuan lain disana.” Jawabku lepas pada Ika. Lega.
Aku tidak merasa bersalah dengan mengungkapkan kalimat itu pada Ika yang
terlihat bingung dengan responku. Namun aku benar-benar tidak terbebani lagi saat
ini. Aku tidak heran lagi kenapa pesan singkat tidak singgah lagi di hp ku, aku
tidak kecewa lagi ketika menemui handphone sepi. Karena aku sudah tahu
semuanya. Dia tidak setia. Kenapa
?. Karena ternyata Halimah bukan aku semata.
Selesai.
Penulis
bernama Wardatun Nabilah, Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat 27 September
1992. Saya adalah penerima beasiswa santri berprestasi kemenag RI di IAIN Sunan
Ampel Surabaya. Sedang dalam proses pembelajaran dalam dunia tulis menulis.
Akun FB: Wardatun Nabilah, Twitter: @Nabil_Tuing, Blog: just-nabil.blogspot.com. Salam kenal.
ket: Cerpen ini telah lolos dalam antologi lomba cerpen Goresan Pena Publishing