Kamis, 09 Mei 2013

Ketika Kau Memanggilku "Halimah"




“I don’t care. Kamu tahu tidak Ka? Ketika lelaki itu sudah berubah dan lama-lama menjauh, berarti ada perempuan lain disana.”

Ada-ada saja yang terpikirkan ketika sendirian. Apalagi ketika hati dalam keadaan tak menentu. Semua yang ada di sekitar kita terasa ikut berbicara. Mungkin kenyataanya tidak benar-benar berbicara, tapi keadaan hati yang melow membuat angin semakin mendayu-dayu dari yang biasanya. Sepertinya hari ini agak berbeda.
Mata kuliah pertama hari ini telah usai. Metodologi penelitian hukum. Awalnya aku sangat khawatir kalau saja aku tidak dapat memahami perkuliahan kali ini. Maklum, karena dosennya 3 minggu tidak hadir, membuat aku dan sebagian temanku merasa blank dengan materi yang telah lalu. Namun kekhawatiran itu hilang ketika bapak dosen hanya berbagi tips-tips mudah dalam penyusunan proposal skripsi. Ya, aku telah semester tua, yang bercita-cita lulus di semester 7. Setelah itu aku akan secepatnya kembali ke kampung halaman yang telah 3 tahun lebih ku tinggalkan. Dari barat Pulau Sumatera aku merantau menuju timur Pulau Jawa. Meninggalkan keluarga, teman, dan seseorang yang pernah mengisi ruang hati ini sepenuhnya, sampai ke sudut-sudutnya. Namun itu dulu, sebelum terkhianati.
“Bil, kemana?,” tanpa sadar, Ika memanggilku dari belakang, membuyarkan konsentrasiku  yang fokus ke depan.
“Perpus,” teriakku singkat dari jauh, dan aku melihat ekspresi wajahnya. Sepertinya ia tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan. Dan ia pun berlalu menuju asrama.
Sebagai anak asrama, biasanya kebiasaan rutin seusai kuliah adalah bersama-sama menuju belakang kampus untuk mencari sarapan, dan di sana sudah berjejer warung makanan dengan harga sesuai ukuran mahasiswa. Namun untuk akhir-akhir ini, bagiku perpustakaan menjadi tempat terpenting, bahkan harus dikunjungi setiap hari. Sekalipun perut belum terisi.  
Memasuki perpustakaan ada hawa semangat yang menggebu-gebu dalam hatiku. “Semangat untuk menyelesaikan.” Begitulah status facebook seorang kakak kelasku dahulu ketika ia pun sedang berada di semsater tua. Tak lama aku mengitari perpustakaan, sekedar mengembalikan buku dan menggantinya dengan buku-buku yang dikira mendukung untuk proposalku minggu depan. Tidak butuh waktu lama untuk mencarinya, karena hampir semua buku yang ingin ku cari sudah ku hafal di bagian mana letak rak bukunya. Tak sampai 15 menit, aku pun keluar. Tak ada lagi tujuan lain, waktunya kembali ke asrama. Karena perut sudah mulai bernyanyi.
Panasnya Surabaya memang juara, apalagi ditambah dengan letak kamarku yang berada di lantai 5, lantai teratas dari rusunawa ini yang berfungsi sebagai asrama ini, butuh perjuangan untuk menaiki tangga satu persatu, karena masih 5 lantai, oleh sebab itu tidak ada fasilitas lift. Begitulah kata kakak kelasku dulu, ketika aku mengeluh harus menaiki tangga setiap hari. Setelah merapikan perkakas kuliah, aku pun menaiki ranjang yang berada di tingkat atas, kamar ini layaknya asrama haji yang pernah ku datangi, tiap kamar ada 2 tempat tidur dengan 2 tingkat, di tambah 1 meja dan 2 lemari. Seperti asrama kebanyakan. Setelah menyalakan kipas angin, aku mencari telepon genggam yang sengaja ku tinggal. Dan seperti yang telah ku duga, tidak ada 1 pesan pun yang masuk, apalagi panggilan masuk. Sepi.  
Sebenarnya hanya ada 2 orang yang tahu nomor kontakku, papa dan dia. Dia yang sebenarnya dulu selalu ku tunggu. Dimana setiap pagi sebelum berangkat kerja selalu berpamitan padaku, dan begitu juga ketika istirahat siang, selalu menelponku, dan tak lupa ketika pulang di sore hari, selalu memberi tahu. Tapi itu dulu, ketika hubungan yang terjalin semenjak 3 tahun yang lalu masih terjaga tanpa dusta. Dulu, ketika dia selalu menghiburku dan menyemangatiku ketika masalah seakan tak berhenti datang padaku. Dulu, ketika aku merasa tidak ada lagi yang peduli kepadaku, dia yang membuatku merasa jadi orang yang paling bahagia di dunia. Dulu, ketika dengan manisnya dia memanggilku dengan panggilan kesayangan, Halimah, sosok wanita yang dia sanjung dan dia manjakan. Tapi sekali lagi itu dulu, sebelum ku tahu ternyata Halimah, bukan hanya aku.
###
Malam pun menjelang. Pemandangan yang tadinya terasa gersang kini lebih menyenangkan bagi yang memandang. Terlebih seperti aku yang berada di lantai teratas. Dari jendela dapat dilihat indahnya kerlap-kerlip lampu dari rumah dan bangunan-bangunan bertingkat di seantero Surabaya, ditambah dengan angin yang bertiup merdu, menjadikan keresahan dari siang yang panas, menjadi hilang seketika.
Agenda setiap malamnya sama.  Seperti biasa ku hidupkan laptop kesayangan, dan bersiap untuk meluncur di dunia maya. Salah satu keuntungan tinggal di asrama mahasiswa ini adalah selain dekat dengan kampus, ada layanan wifi yang sangat membantu para mahasiswa. Kebanyakan dari mereka memang sangat senang karena lebih mudah untuk online di jejaring sosial. Namun tidak hanya untuk hiburan semata, wifi juga sangat membantu dalam mencari tugas kuliah dan mencari informasi tentang berbagai kegiatan yang sekiranya bisa diikuti. Contohnya aku. Aku tidak hanya menjadikan media online sebagai media hiburan semata, tapi juga media pembelajaran. Khususnya menulis. Malam ini aku bermaksud untuk mengumpulkan semua deadline dari event yang bisa ku ikuti. Setelah semua jadwal telah tersusun dalam list, aku pun membuka email untuk mengirimkan salah satu karyaku.
Awalnya aku sedikit bingung dengan pesan masuk yang ada. Banyak nama-nama yang tidak ku kenali. Namun setelah melihat satu persatu aku baru mengerti, bahwa akun email yang sedang ku buka adalah email yang dipakai si dia untuk membuat akun facebooknya. Dan alangkah terkenjutnya aku, bahwa dari percakapan yang tertera, ada bagian dimana dia memanggil Halimah kepada teman online-nya yang bisa dikatakan perempuan semua. Kaget, serasa tidak percaya, begitu teganya dia mengkhianati perasaan yang telah ku bangun dengan rasa percaya dalam waktu tiga tahun, hingga aku pernah rebut dengan papa karena tidak menyetujuinya. Aku telah dikhianati orang yang telah ku perjuangkan dengan penuh air mata.
Akhirnya aku mengerti sekarang, kenapa akhir-akhir ini dia berubah sedikit demi sedikit. Ternyata ada Halimah yang lain. Aku mengerti sekarang, kenapa dia selalu susah dihubungi ketika malam hari, aku juga mengerti kenapa tidak ada lagi panggilan atau pesan singkat yang masuk darinya. Ternyata bukan hanya aku Halimah yang dimanja, yang di sanjung dan dipuja. Ada Halimah lain yang membuatnya lupa padaku yang telah terlanjur jatuh dalam lubang dusta. Aku telah dibohongi dengan bukti yang teramat nyata. Halimah bukan aku semata.
Dan kini aku mulai mengerti. Dari setiap cerita cinta yang terjadi pada teman-temanku, kenapa ada masalah yang terjadi. Kenapa hubungan yang tadinya seperti akan berjalan selamanya, harus terhenti. Kini aku mengerti bagaimana pahitnya dikhianatai. Aku mengetahui rasanya hati yang disakiti. Dibohongi. Bukan lagi karena rasa simpati kepada teman yang bercerita hingga air matanya tak bisa berhenti. Tapi karena aku sendiri yang mengalami. Ketika mengingat kembali kejadian dari isi email-email tadi, aku merasa sakit hati. Namun mungkin inilah jalan yang terbaik. Aku memang tidak menanyakan hal ini padanya. Karena ku yakin dia memang sudah melupakan semua kesetiaan yang pernah diucapkannya. Aku pada awalnya tidak menerima. Namun ku tahu ini bukanlah waktunya untuk benar-benar menjalani sebuah hubungan dengannya atau dengan siapapun. Ku yakin Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya padaku tentang lelaki itu dengan menggerakkan hatiku untuk membuka email waktu itu. Dan aku pun yakin, Tuhan ingin mengajarkan padaku kesetiaan yang selama ini ternyata hanya dusta semata.
###
“Bagaimana bil, kabar kakakmu?” Tiba-tiba Ika memecah kembali konsentrasiku.
“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakannya Ka?.” Aku heran, tiba-tiba saja Pakar Cinta yang baru beberapa waktu lalu menerbitkan bukunya itu bertanya padaku.
“Haha, habis biasanya statusmu galau terus, tapi sekarang jarang update, kenapa ayo?.” Selidiknya.
I don’t care. Kamu tahu tidak Ka? Ketika lelaki itu sudah berubah dan lama-lama menjauh, berarti ada perempuan lain disana.” Jawabku lepas pada Ika. Lega. Aku tidak merasa bersalah dengan mengungkapkan kalimat itu pada Ika yang terlihat bingung dengan responku. Namun aku benar-benar tidak terbebani lagi saat ini. Aku tidak heran lagi kenapa pesan singkat tidak singgah lagi di hp ku, aku tidak kecewa lagi ketika menemui handphone sepi. Karena aku sudah tahu semuanya. Dia tidak setia. Kenapa
?. Karena ternyata Halimah bukan aku semata.
Selesai.      

Penulis bernama Wardatun Nabilah, Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat 27 September 1992. Saya adalah penerima beasiswa santri berprestasi kemenag RI di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang dalam proses pembelajaran dalam dunia tulis menulis. Akun FB: Wardatun Nabilah, Twitter: @Nabil_Tuing, Blog: just-nabil.blogspot.com. Salam kenal.


ket: Cerpen ini telah lolos dalam antologi lomba cerpen Goresan Pena Publishing 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar