Jumat, 03 Januari 2014

Kenapa bisa begini dan begitu ya, Ayah?

Back to writing and I try to don't wear my eye glasses....
Well,,, anggap saja setting adegan berada di sebuah rumah sederhana, sejuk, nyaman... model lama yang jendelanya ada besinya,,,
Suatu sore Nita sedang duduk dengan kertas dan pensil berbulu ayam kesayangannya, entah asik menulis entah asik berpikir. Kemudian ayahnya datang dari belakang dan membawa secangkir kopi dan duduk di kursi depan. Suasana masih hening, hingga ayah meneguk kopinya dan menoleh ke arah Nita yang sedang duduk di sebuah kursi kayu berhadapan dengan meja dan segala peralatannya. Bingung tampaknya.
Ayah menghampiri.
Nit... kenapa anak ayah? sepertinya bingung....
nita pun berbalik. Sudah niat pula rupanya ia berbagi dengan ayahnya itu.
Yah,,, apa semua orang baik yah? apa Nita baik?
Senyum tersimpul dari wajah ayah setelah menyembunyikan wajah kagetnya. Pertanyaan yang tak dikira-kira akan seperti itu adanya.
Kenapa nak? Ayah menarik kursi makan yang tepat berada di belakang kursi kayu tempat Nita berada.
Nggak tau ya yah,, kadang-kadang Nita berpikir, kenapa si A bisa berteman dengan si B, tapi tidak bisa berteman dengan Nita.. atau si C bisa berteman dengan si D, tapi Nita tidak bisa berteman dengannya?
Kenapa ya Yah? Apa Nita tidak baik? apa nita terlalu berpikir buruk tentang teman?
Ayah menghela nafas panjang. Kembali tersenyum dengan pernyataan dan pertanyaan gadis sulungnya.
Bagi ayah, Nita baik, tidak ada yang salah dengan penilaian Nita. Hanya saja, terkadang yang kita pikirkan tidak seperti demikian kenyataanya. Ada kalanya orang itu diam dan mungkin matanya terlihat tajam dan senyum pun tak terlihat dari raut wajahnya, tapi ia orang yang sangat pengiba hatinya dan seringkali menyembunyikan kesedihannya. Adakalanya orang itu selalu tersenyum dan menolong sesama, padahal ia sendiri dalam kesusahan,, Jadi tidak ada yang tahu aslinya orang itu seperti apa.
Tugas kita, bersikap baiklah pada sesama, karena seringkali prasangka itu tidak tepat.
dan jangan lupa juga nak, kita tidak nisa memaksakan kehendak kita akan terjadi juga pada orang. Mungkin si A lebih cocok bertukar cerita dengan B dan lebih nyambung dan bisa membantunya dalam menyelesaikan masalahnya atau bertukar pikiran dengannya, maka kita tidak boleh memaksakan kehendak bahw si A juga akan bersikap sama dengan kita layaknya ia dengan B. Karena tiap orang beda-beda nak, semua punya kurang lebihnya. di sanalah keistimewaan itu berada.
Nita yang sudah dari tadi membelakangi meja, akhirnya membetulkan posisi duduknya dan menuju ke arah ayahnya.
Ia menarik tangan kanan ayahnya dan mencium tangan ayah, kemudian dengan penuh haru ia berucap..
Yah,, makasih ya yah,,, maksiiih banget,, ayah memang pelipur hati Nita.
Ayah tersenyum membelai rambut putri bungsunya itu.


Kemudian angel setting seolah terbang menembus luar jendela dan menatap langit yang jernih dengan hawa sejuk dari angin yang ramah.
End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar