Kamis, 17 Mei 2012

Kursi Goyang Dari Rantau



Tersandar aku di gelap malam, berhias bintang
Gugusan awan merah hilang sudah, Ibu
Kembali pikiranku ke kampung halaman yang akan selalu terkenang,
Mengenangmu, Ibu, yang menunggu di jendela kamar
Menanti anakmu yang terkadang lalai memberi kabar
Senyummu, Ibu, peluk hangatmu waktu itu, masih sangat terasa dalam relung jiwaku yang merinduimu.
Kini anakmu beranjak dewasa Ibu,
Melihatmu kini tak lagi muda, iba hati ini tak menentu
Saatnya aku minta restu Ibu, kini langkahku tak ingin selalu memebebanimu
Tak ingin ku dengar gelak garuda di angkasa melihatku masih merengek padamu, pertanda ketidakmampuanku
Terima kasih Ibu
Hanya kursi goyang ini yang bisa ku persembahkan sebagai pelepas penatmu
Tak mampu ku balas sepenuhnya Ibu
Perjuanganmu mengandungku, melahirkan dan merawatku hingga kini
Telah mengalahkan sabda angin pada alam jagat raya yang bercerita tentang kahidupan
Bertahun-tahun kau didik aku Ibu, mengajariku tentang arti perjuangan.
Kini tiba waktunya kulanjutkan perjuanganmu
Tak ingin lagi ku lihat engkau dalam kepayahan merintih karena beban
Do’akan anakmu, Ibu
Sungguh berat jalanan kehidupan yang berkerikil tajam
Tanpa kasih tulusmu
Terima kasih Ibu
Biodata:
Nama saya Wardatun Nabilah, panggilan saya Nabil. Lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 27 September 1992. Saya anak pertama dari 6 bersaudara. Sekarang umur saya 19 tahun. Saya seorang mahasiswi IAIN Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Syari’ah, jurusan al-ahwal al-syakhshiyyah. Cita-cita saya adalah guru. Hobi saya adalah menyanyi dan menulis sekalipun hanya beberapa saja tulisan saya yang selesai hingga akhir.

Pangeranku


Fajri….
Pangeran Keciku….
Entah kenapa aku ingin sekali menulis sesuatu tentang adikku….
Adik yang pertama kali aku beri nama,,, Fajri. Muhammad Rizky Al-Fajri. Adikku yang ke 5. Aku punya enam orang adik. Zahra, Jamilah, Ayu, Sari dan Fajri. Lelki satu-satunya saat ini. Pangeran Kecilku.
Saat aku menulis ini umurnya baru 2 tahun. Tapi dia sangat pintar. Udah bisa bicara sekalipun masih ada yang kurang jelas, seperti S menjadi C, R menjadi L, belum bisa bilang “NG” seperti payung menjadi payun. Gulung menjadi ulun… hahaha….
Dia udah bisa makan pakai sendok, itulah yang sangat aku senangi,,,, hahaha,, lucu,, sebagai laki-laki dia sangat suka teriak,,, ketika aku menelpon adikku Zahra, yang terdengar bagiku adalah teriakannya yang sangat keras. Awalnya aku heran, masak laki-laki cerewet minta ampun, tapi akhirnya aku sadar bahwa itu tanda kecerdasannya yang semakin terlihat. I LOVE MY BELOVE BROTHER.

Ujian cinta zahra



Pagi ini zahra menangis,,,
Entah apa
Entah kenapa
Ada yang menjanggal dihati zahra,,,
Zahra mengadu pada Tuhan
Zahra kesepian
Teringat masa lalu yang  mungkin indah,,,
Menangis karena ditinggalkan manusia
Betapa bodohnya zahra Ya Allah,,
Zahra hanya ingin cinta ini buat pencipta Zahra
Tapi godaan masa lalu dari sang adam itu selalu membayangi zahra
Ketika dia memberi perhatian
Ini mungkin hanya karena zahra kesepian....

Mimpi


Hujan...
Angin...
Panas...
Semua tak terasa olehku,,
Ada apa ini Tuhan,,,
Kerikil ini begitu menusuk kakiku,,
Tidak Sakit...
Tapi Pedih...
Tuhan,, ada apa ini,,,
Dimana ini,,,
Bagaikan sejuta peluru menerjang ampun,,,
Aku tak berdaya,,
Serasa mati hati ini,,,
Sujudku tak terasa menyentuh tanah..
Hampa...
Tiada rasa,,,
Ada apa ini?
Apakah hamba benar-benar mati?
Sudah dalam kubur?
Telah dikafani?
Jangan,,,,,,,,
Hamba tidak mau...
Hamba belum mengucap selamat tinggal pada ayah ibu dan adik-adik...
***
Seketika badanku ada yang mengguncang,,
Ukhty,,,
Bangun,,,
Subuh,,,,,,
????????

Dibalik cinta


CINTA
Hanya 5 huruf, tapi…….

Antara Tangis dan Duka……
Tawa dan Suka……
Akan menulis apa? CINTA. Lima huruf yang sangat menyakitkan, bahkan tak hanya ketika aku alami, tapi ketika aku menndengarnya, merasakannya. PAHIT.
Aku tak mau bercinta. Itulah responku atas segala kejadian yang berkaitan dengan cinta. Sungguh menyiksa,,,
Aku selalu gagal..
Gagal…
Karena belum waktunya,,
Cinta itu bagiku adalah kesiapan mental yang saling menerima, menyayangi antara dua orang yang saling berhuungan, jauh dalam lubuk hati yang terdalam aku ingin memiliki seseorangyang begitu menyayangku dan aku pun menyayanginya, memperhatikan aku karena aku memperhtaikannya. Tapi sampai saat ini belum ada.
Untuk adikku, aku katakan tidak pada CINTA. Aku tidak mau adikku mengalami hal pahit yang ku alami. Merasa begitu hina karena suamiku akan tahu bahwa dia bukanlah orang yang pertama. Tapi kesekian, entah akan ada salah satu dari orang yang ku kenal yang akan mendampingiku dalam pelaminan, menjadi imam shalatku dan mengajarkan do’a sehari-hari pada anak-anakku. Mungkin diantara teman-temanku, pengalaman cintaku yang paling banyak dan tak ada satupun yang menyenangkan, sekali lagi semuanya PAHIT.
Andai ku bisa ulang takdirku pada Zaman Azali sebelum aku terlahir ke dunia, aku akan minta menjadi seorang lelaki yang tak punya perasaan pada perempuan, tapi sangat sayang pada adik-adiknya. Entahlah. Hanya angan-angan setelah frustasi. Entah apa yang ku rasa saat menulis ini.
Cinta yang kandas adalah makananku dalam mengarungi cinta, cinta dan cinta. Anda tahu, memang benar akulah yang memutuskan para lelaki yang pernah singgah di hatiku. Kenapa? Karena tak ada yang memiliki komitmen dan semua takut.  Bagiku cinta itu menikah. Dan sebenarnya dalam islam pertautan cinta antara perempuan dan laki-laki ya dengan menikah. Tak ada  pacaran yang berlarut-larut. Bertahun-tahun. Bagaimana dengan ta’aruf? Apa benar orang yang bilang sedang ta’aruf mereka akan menikah?
****
Tulisan yang aneh.