Senin, 29 April 2013
AE PUBLISHING: Event Poligami Part II (29 April - 25 Mei 2013)
AE PUBLISHING: Event Poligami Part II (29 April - 25 Mei 2013): Kali ini di grup Antologi Es Campur mengadakan event tentang poligami lagi untuk melengkapi naskah-naskah yang telah terpilih pada event ...
Rabu, 24 April 2013
Kau Ajari Aku Cinta
“Pokoknya kalau ada
nomor baru jangan digubris !!”
Begitulah pesannya ketika
dia memberiku HP. Selalu terngiang di benakku, sosoknya kelihatan garang dan
sangat protektif, tapi ku yakin, dia memberikan seluruh cintanya padaku dan
adik-adiknya yang lain dengan cara yang berbeda. Maklum, kami yang berenam
saudara, hanya si bungsu yang terlahir sebagai adam, dari kakakku sampai adikku
nomor lima, kami semua perempuan, jadi menurutku wajar kalau dia agak sedikit
keras menjaga kami, terlebih jika berkaitan dengan lawan jenis.
“Yara, jika lelaki itu memang serius denganmu, dia
pasti tidak akan takut untuk bertemu papa, setidaknya memperlihatkan mukanya.
Jangan mudah hatimu terbawa sifat baik orang lain, dia bisa baik kepada siapa
saja. ”, itulah petuah hebat darinya, dia belum menikah sampai sekarang karena
ingin melihat adik-adiknya sukses dan meringankan beban orang tua. Terima kasih
kakak atas cintamu.
Bintu muslim adalah nama pena dari Wardatun Nabilah. Saat ini masih belajar dalam kepenulisan. Bisa di temui di @nabil_tuing atau Hanya Nabielsendiri. Email: nabil_just@yahoo.co.id
Paris Ungu
Matahari belum menampakkan sinarnya. Langit
hitam pun masih menjadi kanvas yang indah untuk para bintang. Sebenarnya jam di
HP ku masih menunjukkan 04.30 am, tapi kokok ayam atau siulan burung tak
terdengar disini, Kota Metropolitan kedua yang hawanya sangat panas bagiku. Hal
ini berbeda dengan yang ku rasakan setiap pagi di kampung halamanku. Mungkin
jam terbang ayam-ayam dan burung-burung di kota berbeda dengan di desa.
Suasana asrama tempat tinggalku bersama 23
teman lainnya pun masih sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang setelah
selesai shalat malam setia menunggu waktu subuh dalam hamparan sajadahnya. Dan
aku bukan termasuk golongan mereka. Hmmmmmm, karena sebelum azan subuh
berkumandang aku sudah bersih diri dan bersiap dengan pakaian kuliah. Dan
setelah menunaikan shalat subuh, aku pun bersiap menuju kampus. Tak lupa dengan
ransel biru yang sudah berkali-kali ku jahit talinya karena terlalu sering ku
gunakan dalam serangkaian kegiatan kampusku. Tapi untuk menggantinya dengan
yang baru, aku masih terlalu sayang padanya. Tepat pada pukul 05.00 am, saat
pertama kali pintu gerbang di buka, akulah manusia pertama yang keluar dari
rumah bertingkat yang di jadikan asrama putri ini.
Teman-temanku sudah tak lagi heran jikalau
saat mereka baru akan bersiap memulai aktivitas, aku sudah tidak ada di sekitar
mereka. Karena mereka sudah tahu kapan dan kemana aku pergi. Ya, aku pasti ke
kampus kemudian duduk di gazebo, semacam pondok yang ada ada kursi dan meja
yang terbuat dari semen tempat biasa mahasiswa beristirahat dan langsung
berseluncur ke dunia maya. Begitulah urutannya, yang ku lakukan setiap hari dan
menjadi alasan untukku keluar dari asrama paling awal, dan seringkali kembali
ke asrama paling akhir. Aku pun jadi tahu kenapa teman-teman sekelas yang dipelopori
oleh Adit, menggelariku Miss Ngenet. Tapi bukan gelar itulah yang membuatku
betah. Karena selain aku lebih mudah untuk mengerjakan tugas dan mencari bahan
mata kuliah, jejaring sosial yang selalu pertama kali kubuka itu telah
mempertemukanku dengan seseorang. Aku pun menamainya Manusia Maya.
###
“Ra, Ruang berapa?” tiba-tiba ada sms dari Ana teman imutku.
“17” jawabku singkat sembari member tanda smile di ujungnya.
“Qm dah d kls?” balasnya
“Y, bntr lagi” jawabku dan tak lupa tanda smilenya lagi.
Tanpa sadar jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.30, mata kuliah
pertama tepat dimulai pukul 07.40. Bergegas ku rapikan laptop dan ku masukkan
ke ransel kesayangan, langkahku ku pun mantap menuju ruang kelas, agaknya Ana
sudah duluan sampai disana.
Benar dugaanku, tak hanya Ana, teman-teman lain pun sudah mulai
ramai. Kelas kami memang dikenal kelas yang unik. Dimulai dari masa setelah
orientasi dilaksanakan, kami yang tinggal satu asrama sudah secara naluriah berangkat
secara rombongan, dan tak hanya itu, yang terkadang bikin kami tertawa adalah
ketika kami menyadari bahwa tas ransel kami sekelas adalah sama, alias kembar.
Hal ini sangat mengesankan.
“An..” sapaku padanya, sambil senyum-senyum
“Pasti liat Manusia Mayamu itu lagi kan? Aku sudah hafal raut wajahmu
itu” jawabnya langsung tanpa jeda.
“Hehe” jawabku
“Hehe” ejeknya. “Eh tapi njgomong-ngomong siapa sih sebenarnya dia?
Jangan-jangan perempuan lagi, hahaha”.
“Ih,,,,, Ada namanya kok, cowok lagi.” Aku sebenarnya masih ingin
cerita panjang lebar tentang lelaki idamanku ini pada Ana, sahabatku yang imut
ini, tapi dalam perkuliahan dia sangat teliti dan cekatan dalam tugas. Tapi
dosen karena dose telah datang , pembicaraan pun terhenti.
“Nanti ku lihatkan fb-nya deh,” bisikku padanya. Dan Ana pun
membalas dengan senyumnya.
###
Udara Surabaya ini memang sangat menyiksaku, aku yang terlahir di
daerah dingin yang dikelilingi pegunungan dan bukitg sangt tidak gterbiasa
dengan cuaca panas, malahan sangat panas.
Bersambung...
Semangat dan teruslah berkarya, bagai seorang
seniman yang mengabdikan karyanya untuk nusa dan bangsa dan agama... J
Cinta Tanpa Kata Cinta
Pendiam. Namun
hanya untukku. Tak banyak tingkah. Namun hanya untukku. Aku diperlakukan berbeda
dengan teman-temannya. Setahuku, dia adalah orang yang suka humor dan sering “gila-gila”an.
Tapi ku harap segala puisi indah dan ucapan selamat tidur yang dia kirimkan
setiap malam, juga hanya untukku. Banyak hal yang kuumpamakan tentangnya. Pooh,
kakak gendut, semuanya pertanda terima kasihku atas segala kebaikannya. Ia tak
pernah mengumbar janji atau mengirimkan bunga mawar merah, hanya sebuah al-Quran
yang menjadi kenangan darinya hingga saat ini. Senyum dalam diam, hanya itu
yang sering dia tunjukkan padaku. Dan satu lagi yang baru ku tahu, ternyata dia
sering mencuri pandang dari jauh, begitulah yang sering dilaporkan teman-teman
padaku. Walaupun sekarang aku tak lagi bisa melihatnya dan aku tak tahu
bagaimana kabar cinta yang disimpan dalam hatinya, aku hanya memahami satu hal,
cinta tak harus dipenuhi kata-kata cinta.
Bintu muslim
adalah nama pena dari Wardatun Nabilah. Saat ini masih belajar dalam
kepenulisan. Bisa di temui di @nabil_tuing atau Hanya Nabielsendiri. Email: nabil_just@yahoo.co.id

Hatiku Telah Basah
Hatiku
telah basah
Sebasah
hujan, menggenang-genang
Hatiku
telah basah
Sesebak
tangisan, mendesah-desah
Hatiku
telah basah
Sekedar
kenangan, yang kini telah berubah
Mengharukan,
kenangan tinggal kenangan
Hatiku
telah basah
Teringat
langkah bersamaan, di bawah hujan
Disaksikan
rembulan
Hatiku
telah basah
Belajar Dari Mana Saja
Mataku
mulai bosan memandangai layar tv sebesar telapak tangan, punggung juga
terasa mulai panas dan mulai tak tenang, yah, bosan. Ada hal lain yang
ku rasakan malam ini, tanganku sudah gatal lagi untuk menyentuh tus
keyboard laptop yang telah lama mati suri karena aku yang kehilangan
gairah menulis. Entah cerita apa yang ku buat, rasanya aku hanya merubah
setiap gumaman dalam kepala menjadi rangkaian huruf sehingga
menghasilkan suatu kalimat yang tertulis, tentu saja dengan bantuan
jari-jemari yang tak henti menari. Bahkan kebiasaan ini hampir membuatku
hafal dimana letak para huruf yang terbungkus kotak persegi empat dan
berjejer tak berurut dalam keyboard. Aku jadi berpikir kenapa tidak
berurut sesuai alfabet ya? Apa anda juga pernah memikirkannya?.
Sekali lagi aku mengenang perkataan seorang teman, yang sebanarnya usianya lebih tua dariku, namun dia adik tingkat dalam kuliahku, dia berkata apabila ada yang terpikirkan, tuliskan saja. Aku lupa susunan katanya secara persis, tapi kira-kira begitulah intinya. Akhir-akhir ini aku sering menulis catatan fb. Tak tahu mengapa, kalau aku menulis di word, kata-kataku terasa hilang, apakah mungkin karena di word tidak ada tulisan "Terbitkan"?.
Aku menoleh ke arah belakang, ku lihat telepon genggam tersudut sendirian di dekat bantal. Ada rasa kasihan aku melihatnya, niat hati ingin mengambilnya, ada film yang sedang ku tonton di sana, namun tanganku masih gatal untuk menari. Tapi aku akhirnya aku mengambilnya.
Kuletakkan headset di telinga, sebenarnya telingaku sebelah kanan sudah mengaung sakit karena aku jarang tidak memakai pendengar suara ini, aku tak suka keributan atau mendengar suara-suara lain ketika aku sedang beraktivitas apalagi tidur, aku memang ingin sendiri, atau lebih singkatnya headset memebuatku merasa aku menikmati hidupku tanpa gangguan apapun. Ku sentuh layar yang selebar telapak tangan itu dan ku buka tv analog yang ada pada menu, ternyata film sudah di putar. Born To Be King, itu judulnya. Diawali dari cerita mimpi seorang lelaki yang teringat tentang seorang wanita yang sepertinya pernah hadir dalam hidupnya samapai akhirnya wanita itu pergi karena suatu kecelakaan yang membawa pada kematian, sepertinya cerita akan sengit. Tapi aku tak akan membuat resensi film di sini, aku hanya memikirkan, atau lebih tepat ingin tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang kini hadir dalam kehidupan lelaki itu sementara ingatannya masih tertancap pada masa lalunya. Entahlah, lihat bagaimana akhirnya saja.
lalu klimaks catatan ini apa?
Entahlah, yang penting aku telah membaca cerpen dalam antologi dan aku menulis, tertarik menulis. Anggap saja aku mempraktekkan apa yang ku dapat dari membaca cerpen, aku membaca cerpen, aku belajar dan aku menulis. Itu saja. hehe.
Dan ternyata panjang juga ya, dan aku pun akan berlatih lagi, em, sepertinya belum usai.
MUdah-mudahan.

Sekali lagi aku mengenang perkataan seorang teman, yang sebanarnya usianya lebih tua dariku, namun dia adik tingkat dalam kuliahku, dia berkata apabila ada yang terpikirkan, tuliskan saja. Aku lupa susunan katanya secara persis, tapi kira-kira begitulah intinya. Akhir-akhir ini aku sering menulis catatan fb. Tak tahu mengapa, kalau aku menulis di word, kata-kataku terasa hilang, apakah mungkin karena di word tidak ada tulisan "Terbitkan"?.
Aku menoleh ke arah belakang, ku lihat telepon genggam tersudut sendirian di dekat bantal. Ada rasa kasihan aku melihatnya, niat hati ingin mengambilnya, ada film yang sedang ku tonton di sana, namun tanganku masih gatal untuk menari. Tapi aku akhirnya aku mengambilnya.
Kuletakkan headset di telinga, sebenarnya telingaku sebelah kanan sudah mengaung sakit karena aku jarang tidak memakai pendengar suara ini, aku tak suka keributan atau mendengar suara-suara lain ketika aku sedang beraktivitas apalagi tidur, aku memang ingin sendiri, atau lebih singkatnya headset memebuatku merasa aku menikmati hidupku tanpa gangguan apapun. Ku sentuh layar yang selebar telapak tangan itu dan ku buka tv analog yang ada pada menu, ternyata film sudah di putar. Born To Be King, itu judulnya. Diawali dari cerita mimpi seorang lelaki yang teringat tentang seorang wanita yang sepertinya pernah hadir dalam hidupnya samapai akhirnya wanita itu pergi karena suatu kecelakaan yang membawa pada kematian, sepertinya cerita akan sengit. Tapi aku tak akan membuat resensi film di sini, aku hanya memikirkan, atau lebih tepat ingin tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang kini hadir dalam kehidupan lelaki itu sementara ingatannya masih tertancap pada masa lalunya. Entahlah, lihat bagaimana akhirnya saja.
lalu klimaks catatan ini apa?
Entahlah, yang penting aku telah membaca cerpen dalam antologi dan aku menulis, tertarik menulis. Anggap saja aku mempraktekkan apa yang ku dapat dari membaca cerpen, aku membaca cerpen, aku belajar dan aku menulis. Itu saja. hehe.
Dan ternyata panjang juga ya, dan aku pun akan berlatih lagi, em, sepertinya belum usai.
MUdah-mudahan.

Halimah Namanya
Seorang pemuda menulis dengan penerangan lampu minyak di tengah
ruangan yang berlantai kayu. Angin berhembus sangat lambat menyentuh
api. Bayangan pena berubah-ubah tempat karena angin. Matanya sangat
tajam masa depan. Tertuai dalam setiap kata dan kalimat yang telah
kering tintanya. Hening.
Dari belakang sesosok wanita berkerudung biru menghampiri dengan segelas teh di tangannya. Langkahnya pasti menuju pemuda yang tengah khusuk dalam lautan kata. Diletakkannya lah secangkir teh tadi di hadapan pemuda yang entah menyadari kehadirannya entah tidak. Sambil tersenyum ia pun berkata,
"Uda, malam telah larut, apa juga yang masih menjanggal dalam hati uda?, tak usah uda risaukan dalam tulisan, adik siap mendengarkan." Ucapnya membujuk.
Segera tersadar pemuda tadi dari ke-khusuk-annya dari lembaran-lembaran di hadapannya. Tak ayal lelaki itu pun meletakkan pena tintanya. Dipandangnya wanita di hadapannya itu. Yang sejenak langsung menghilangkan penat di pundaknya. Halimah namanya.
Bersambung.
Dari belakang sesosok wanita berkerudung biru menghampiri dengan segelas teh di tangannya. Langkahnya pasti menuju pemuda yang tengah khusuk dalam lautan kata. Diletakkannya lah secangkir teh tadi di hadapan pemuda yang entah menyadari kehadirannya entah tidak. Sambil tersenyum ia pun berkata,
"Uda, malam telah larut, apa juga yang masih menjanggal dalam hati uda?, tak usah uda risaukan dalam tulisan, adik siap mendengarkan." Ucapnya membujuk.
Segera tersadar pemuda tadi dari ke-khusuk-annya dari lembaran-lembaran di hadapannya. Tak ayal lelaki itu pun meletakkan pena tintanya. Dipandangnya wanita di hadapannya itu. Yang sejenak langsung menghilangkan penat di pundaknya. Halimah namanya.
Bersambung.
Menunggu Hujan
"Belum pulang mbak?"
Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.
"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.
"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.
Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.
"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''
Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.
"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."
"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.
Bersambung

Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.
"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.
"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.
Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.
"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''
Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.
"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."
"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.
Bersambung

Langganan:
Komentar (Atom)