Rabu, 24 April 2013

LirikNasyid.com : Hijjaz - Dia Kekasih Allah

LirikNasyid.com : Hijjaz - Dia Kekasih Allah

Kau Ajari Aku Cinta


“Pokoknya kalau ada nomor baru jangan digubris !!” 

Begitulah pesannya ketika dia memberiku HP. Selalu terngiang di benakku, sosoknya kelihatan garang dan sangat protektif, tapi ku yakin, dia memberikan seluruh cintanya padaku dan adik-adiknya yang lain dengan cara yang berbeda. Maklum, kami yang berenam saudara, hanya si bungsu yang terlahir sebagai adam, dari kakakku sampai adikku nomor lima, kami semua perempuan, jadi menurutku wajar kalau dia agak sedikit keras menjaga kami, terlebih jika berkaitan dengan lawan jenis.

“Yara,  jika lelaki itu memang serius denganmu, dia pasti tidak akan takut untuk bertemu papa, setidaknya memperlihatkan mukanya. Jangan mudah hatimu terbawa sifat baik orang lain, dia bisa baik kepada siapa saja. ”, itulah petuah hebat darinya, dia belum menikah sampai sekarang karena ingin melihat adik-adiknya sukses dan meringankan beban orang tua. Terima kasih kakak atas cintamu.
Bintu muslim adalah nama pena dari Wardatun Nabilah. Saat ini masih belajar dalam kepenulisan. Bisa di temui di @nabil_tuing atau Hanya Nabielsendiri. Email: nabil_just@yahoo.co.id

Paris Ungu


Matahari belum menampakkan sinarnya. Langit hitam pun masih menjadi kanvas yang indah untuk para bintang. Sebenarnya jam di HP ku masih menunjukkan 04.30 am, tapi kokok ayam atau siulan burung tak terdengar disini, Kota Metropolitan kedua yang hawanya sangat panas bagiku. Hal ini berbeda dengan yang ku rasakan setiap pagi di kampung halamanku. Mungkin jam terbang ayam-ayam dan burung-burung di kota berbeda dengan di desa.
Suasana asrama tempat tinggalku bersama 23 teman lainnya pun masih sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang setelah selesai shalat malam setia menunggu waktu subuh dalam hamparan sajadahnya. Dan aku bukan termasuk golongan mereka. Hmmmmmm, karena sebelum azan subuh berkumandang aku sudah bersih diri dan bersiap dengan pakaian kuliah. Dan setelah menunaikan shalat subuh, aku pun bersiap menuju kampus. Tak lupa dengan ransel biru yang sudah berkali-kali ku jahit talinya karena terlalu sering ku gunakan dalam serangkaian kegiatan kampusku. Tapi untuk menggantinya dengan yang baru, aku masih terlalu sayang padanya. Tepat pada pukul 05.00 am, saat pertama kali pintu gerbang di buka, akulah manusia pertama yang keluar dari rumah bertingkat yang di jadikan asrama putri ini.
Teman-temanku sudah tak lagi heran jikalau saat mereka baru akan bersiap memulai aktivitas, aku sudah tidak ada di sekitar mereka. Karena mereka sudah tahu kapan dan kemana aku pergi. Ya, aku pasti ke kampus kemudian duduk di gazebo, semacam pondok yang ada ada kursi dan meja yang terbuat dari semen tempat biasa mahasiswa beristirahat dan langsung berseluncur ke dunia maya. Begitulah urutannya, yang ku lakukan setiap hari dan menjadi alasan untukku keluar dari asrama paling awal, dan seringkali kembali ke asrama paling akhir. Aku pun jadi tahu kenapa teman-teman sekelas yang dipelopori oleh Adit, menggelariku Miss Ngenet. Tapi bukan gelar itulah yang membuatku betah. Karena selain aku lebih mudah untuk mengerjakan tugas dan mencari bahan mata kuliah, jejaring sosial yang selalu pertama kali kubuka itu telah mempertemukanku dengan seseorang. Aku pun menamainya Manusia Maya.
###
“Ra, Ruang berapa?” tiba-tiba ada sms dari Ana teman imutku.
“17” jawabku singkat sembari member tanda smile di ujungnya.
“Qm dah d kls?” balasnya
“Y, bntr lagi” jawabku dan tak lupa tanda smilenya lagi.
Tanpa sadar jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.30, mata kuliah pertama tepat dimulai pukul 07.40. Bergegas ku rapikan laptop dan ku masukkan ke ransel kesayangan, langkahku ku pun mantap menuju ruang kelas, agaknya Ana sudah duluan sampai disana.
Benar dugaanku, tak hanya Ana, teman-teman lain pun sudah mulai ramai. Kelas kami memang dikenal kelas yang unik. Dimulai dari masa setelah orientasi dilaksanakan, kami yang tinggal satu asrama sudah secara naluriah berangkat secara rombongan, dan tak hanya itu, yang terkadang bikin kami tertawa adalah ketika kami menyadari bahwa tas ransel kami sekelas adalah sama, alias kembar. Hal ini sangat mengesankan.
“An..” sapaku padanya, sambil senyum-senyum
“Pasti liat Manusia Mayamu itu lagi kan? Aku sudah hafal raut wajahmu itu” jawabnya langsung tanpa jeda.
“Hehe” jawabku
“Hehe” ejeknya. “Eh tapi njgomong-ngomong siapa sih sebenarnya dia? Jangan-jangan perempuan lagi, hahaha”.
“Ih,,,,, Ada namanya kok, cowok lagi.” Aku sebenarnya masih ingin cerita panjang lebar tentang lelaki idamanku ini pada Ana, sahabatku yang imut ini, tapi dalam perkuliahan dia sangat teliti dan cekatan dalam tugas. Tapi dosen karena dose telah datang , pembicaraan pun terhenti.
“Nanti ku lihatkan fb-nya deh,” bisikku padanya. Dan Ana pun membalas dengan senyumnya.
###
Udara Surabaya ini memang sangat menyiksaku, aku yang terlahir di daerah dingin yang dikelilingi pegunungan dan bukitg sangt tidak gterbiasa dengan cuaca panas, malahan sangat panas.

Bersambung...

Semangat dan teruslah berkarya, bagai seorang seniman yang mengabdikan karyanya untuk nusa dan bangsa dan agama... J 

Cinta Tanpa Kata Cinta


Pendiam. Namun hanya untukku. Tak banyak tingkah. Namun hanya untukku. Aku diperlakukan berbeda dengan teman-temannya. Setahuku, dia adalah orang yang suka humor dan sering “gila-gila”an. Tapi ku harap segala puisi indah dan ucapan selamat tidur yang dia kirimkan setiap malam, juga hanya untukku. Banyak hal yang kuumpamakan tentangnya. Pooh, kakak gendut, semuanya pertanda terima kasihku atas segala kebaikannya. Ia tak pernah mengumbar janji atau mengirimkan bunga mawar merah, hanya sebuah al-Quran yang menjadi kenangan darinya hingga saat ini. Senyum dalam diam, hanya itu yang sering dia tunjukkan padaku. Dan satu lagi yang baru ku tahu, ternyata dia sering mencuri pandang dari jauh, begitulah yang sering dilaporkan teman-teman padaku. Walaupun sekarang aku tak lagi bisa melihatnya dan aku tak tahu bagaimana kabar cinta yang disimpan dalam hatinya, aku hanya memahami satu hal, cinta tak harus dipenuhi kata-kata cinta.

Bintu muslim adalah nama pena dari Wardatun Nabilah. Saat ini masih belajar dalam kepenulisan. Bisa di temui di @nabil_tuing atau Hanya Nabielsendiri. Email: nabil_just@yahoo.co.id
n (3).jpg

Hatiku Telah Basah


Hatiku telah basah

Sebasah hujan, menggenang-genang

Hatiku telah basah

Sesebak tangisan, mendesah-desah

Hatiku telah basah

Sekedar kenangan, yang kini telah berubah

Mengharukan, kenangan tinggal kenangan

Hatiku telah basah

Teringat langkah bersamaan, di bawah hujan

Disaksikan rembulan 

Hatiku telah basah

Belajar Dari Mana Saja

Mataku mulai bosan memandangai layar tv sebesar telapak tangan, punggung juga terasa mulai panas dan mulai tak tenang, yah, bosan. Ada hal lain yang ku rasakan malam ini, tanganku sudah gatal lagi untuk menyentuh tus keyboard laptop yang telah lama mati suri karena aku yang kehilangan gairah menulis. Entah cerita apa yang ku buat, rasanya aku hanya merubah setiap gumaman dalam kepala menjadi rangkaian huruf sehingga menghasilkan suatu kalimat yang tertulis, tentu saja dengan bantuan jari-jemari yang tak henti menari. Bahkan kebiasaan ini hampir membuatku hafal dimana letak para huruf yang terbungkus kotak persegi empat dan berjejer tak berurut dalam keyboard. Aku jadi berpikir kenapa tidak berurut sesuai alfabet ya? Apa anda juga pernah memikirkannya?.

Sekali lagi aku mengenang perkataan seorang teman, yang sebanarnya usianya lebih tua dariku, namun dia adik tingkat dalam kuliahku, dia berkata apabila ada yang terpikirkan, tuliskan saja. Aku lupa susunan katanya secara persis, tapi kira-kira begitulah intinya. Akhir-akhir ini aku sering menulis catatan fb. Tak tahu mengapa, kalau aku menulis di word, kata-kataku terasa hilang, apakah mungkin karena di word tidak ada tulisan "Terbitkan"?.

Aku menoleh ke arah belakang, ku lihat telepon genggam tersudut sendirian di dekat bantal. Ada rasa kasihan aku melihatnya, niat hati ingin mengambilnya, ada film yang sedang ku tonton di sana, namun tanganku masih gatal untuk menari. Tapi aku akhirnya aku mengambilnya.

Kuletakkan headset di telinga, sebenarnya telingaku sebelah kanan sudah mengaung sakit karena aku jarang tidak memakai pendengar suara ini, aku tak suka keributan atau mendengar suara-suara lain ketika aku sedang beraktivitas apalagi tidur, aku memang ingin sendiri, atau lebih singkatnya headset memebuatku merasa aku menikmati hidupku tanpa gangguan apapun. Ku sentuh layar yang selebar telapak tangan itu dan ku buka tv analog yang ada pada menu, ternyata film sudah di putar. Born To Be King, itu judulnya. Diawali dari cerita mimpi seorang lelaki yang teringat tentang seorang wanita yang sepertinya pernah hadir dalam hidupnya samapai akhirnya wanita itu pergi karena suatu kecelakaan yang membawa pada kematian, sepertinya cerita akan sengit. Tapi aku tak akan membuat resensi film di sini, aku hanya memikirkan, atau lebih tepat ingin tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang kini hadir dalam kehidupan lelaki itu sementara ingatannya masih tertancap pada masa lalunya. Entahlah, lihat bagaimana akhirnya saja.

lalu klimaks catatan ini apa?
Entahlah, yang penting aku telah membaca cerpen dalam antologi dan aku menulis, tertarik menulis. Anggap saja aku mempraktekkan apa yang ku dapat dari membaca cerpen, aku membaca cerpen, aku belajar dan aku menulis. Itu saja. hehe.

Dan ternyata panjang juga ya, dan aku pun akan berlatih lagi, em, sepertinya belum usai.
MUdah-mudahan.


Halimah Namanya

Seorang pemuda menulis dengan penerangan lampu minyak di tengah ruangan yang berlantai kayu. Angin berhembus sangat lambat menyentuh api. Bayangan pena berubah-ubah tempat karena angin. Matanya sangat tajam masa depan. Tertuai dalam setiap kata dan kalimat yang telah kering tintanya. Hening.

Dari belakang sesosok wanita berkerudung biru menghampiri dengan segelas teh di tangannya. Langkahnya pasti menuju pemuda yang tengah khusuk dalam lautan kata. Diletakkannya lah secangkir teh tadi di hadapan pemuda yang entah menyadari kehadirannya entah tidak. Sambil tersenyum ia pun berkata,

"Uda, malam telah larut, apa juga  yang masih menjanggal dalam hati uda?, tak usah uda risaukan dalam tulisan, adik siap mendengarkan." Ucapnya membujuk.

Segera tersadar pemuda tadi dari ke-khusuk-annya dari lembaran-lembaran di hadapannya. Tak ayal lelaki itu pun meletakkan pena tintanya. Dipandangnya wanita di hadapannya itu. Yang sejenak langsung menghilangkan penat di pundaknya. Halimah namanya.

Bersambung.

Menunggu Hujan

"Belum pulang mbak?"

Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.

"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.

"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.

Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.

"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''

Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.

"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."

"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.

"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.

Bersambung