"Belum pulang mbak?"
Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.
"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.
"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.
Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.
"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''
Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.
"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."
"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.
Bersambung

Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.
"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.
"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.
Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.
"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''
Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.
"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."
"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar