Rabu, 24 April 2013

Halimah Namanya

Seorang pemuda menulis dengan penerangan lampu minyak di tengah ruangan yang berlantai kayu. Angin berhembus sangat lambat menyentuh api. Bayangan pena berubah-ubah tempat karena angin. Matanya sangat tajam masa depan. Tertuai dalam setiap kata dan kalimat yang telah kering tintanya. Hening.

Dari belakang sesosok wanita berkerudung biru menghampiri dengan segelas teh di tangannya. Langkahnya pasti menuju pemuda yang tengah khusuk dalam lautan kata. Diletakkannya lah secangkir teh tadi di hadapan pemuda yang entah menyadari kehadirannya entah tidak. Sambil tersenyum ia pun berkata,

"Uda, malam telah larut, apa juga  yang masih menjanggal dalam hati uda?, tak usah uda risaukan dalam tulisan, adik siap mendengarkan." Ucapnya membujuk.

Segera tersadar pemuda tadi dari ke-khusuk-annya dari lembaran-lembaran di hadapannya. Tak ayal lelaki itu pun meletakkan pena tintanya. Dipandangnya wanita di hadapannya itu. Yang sejenak langsung menghilangkan penat di pundaknya. Halimah namanya.

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar