Rabu, 24 April 2013

Paris Ungu


Matahari belum menampakkan sinarnya. Langit hitam pun masih menjadi kanvas yang indah untuk para bintang. Sebenarnya jam di HP ku masih menunjukkan 04.30 am, tapi kokok ayam atau siulan burung tak terdengar disini, Kota Metropolitan kedua yang hawanya sangat panas bagiku. Hal ini berbeda dengan yang ku rasakan setiap pagi di kampung halamanku. Mungkin jam terbang ayam-ayam dan burung-burung di kota berbeda dengan di desa.
Suasana asrama tempat tinggalku bersama 23 teman lainnya pun masih sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang setelah selesai shalat malam setia menunggu waktu subuh dalam hamparan sajadahnya. Dan aku bukan termasuk golongan mereka. Hmmmmmm, karena sebelum azan subuh berkumandang aku sudah bersih diri dan bersiap dengan pakaian kuliah. Dan setelah menunaikan shalat subuh, aku pun bersiap menuju kampus. Tak lupa dengan ransel biru yang sudah berkali-kali ku jahit talinya karena terlalu sering ku gunakan dalam serangkaian kegiatan kampusku. Tapi untuk menggantinya dengan yang baru, aku masih terlalu sayang padanya. Tepat pada pukul 05.00 am, saat pertama kali pintu gerbang di buka, akulah manusia pertama yang keluar dari rumah bertingkat yang di jadikan asrama putri ini.
Teman-temanku sudah tak lagi heran jikalau saat mereka baru akan bersiap memulai aktivitas, aku sudah tidak ada di sekitar mereka. Karena mereka sudah tahu kapan dan kemana aku pergi. Ya, aku pasti ke kampus kemudian duduk di gazebo, semacam pondok yang ada ada kursi dan meja yang terbuat dari semen tempat biasa mahasiswa beristirahat dan langsung berseluncur ke dunia maya. Begitulah urutannya, yang ku lakukan setiap hari dan menjadi alasan untukku keluar dari asrama paling awal, dan seringkali kembali ke asrama paling akhir. Aku pun jadi tahu kenapa teman-teman sekelas yang dipelopori oleh Adit, menggelariku Miss Ngenet. Tapi bukan gelar itulah yang membuatku betah. Karena selain aku lebih mudah untuk mengerjakan tugas dan mencari bahan mata kuliah, jejaring sosial yang selalu pertama kali kubuka itu telah mempertemukanku dengan seseorang. Aku pun menamainya Manusia Maya.
###
“Ra, Ruang berapa?” tiba-tiba ada sms dari Ana teman imutku.
“17” jawabku singkat sembari member tanda smile di ujungnya.
“Qm dah d kls?” balasnya
“Y, bntr lagi” jawabku dan tak lupa tanda smilenya lagi.
Tanpa sadar jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.30, mata kuliah pertama tepat dimulai pukul 07.40. Bergegas ku rapikan laptop dan ku masukkan ke ransel kesayangan, langkahku ku pun mantap menuju ruang kelas, agaknya Ana sudah duluan sampai disana.
Benar dugaanku, tak hanya Ana, teman-teman lain pun sudah mulai ramai. Kelas kami memang dikenal kelas yang unik. Dimulai dari masa setelah orientasi dilaksanakan, kami yang tinggal satu asrama sudah secara naluriah berangkat secara rombongan, dan tak hanya itu, yang terkadang bikin kami tertawa adalah ketika kami menyadari bahwa tas ransel kami sekelas adalah sama, alias kembar. Hal ini sangat mengesankan.
“An..” sapaku padanya, sambil senyum-senyum
“Pasti liat Manusia Mayamu itu lagi kan? Aku sudah hafal raut wajahmu itu” jawabnya langsung tanpa jeda.
“Hehe” jawabku
“Hehe” ejeknya. “Eh tapi njgomong-ngomong siapa sih sebenarnya dia? Jangan-jangan perempuan lagi, hahaha”.
“Ih,,,,, Ada namanya kok, cowok lagi.” Aku sebenarnya masih ingin cerita panjang lebar tentang lelaki idamanku ini pada Ana, sahabatku yang imut ini, tapi dalam perkuliahan dia sangat teliti dan cekatan dalam tugas. Tapi dosen karena dose telah datang , pembicaraan pun terhenti.
“Nanti ku lihatkan fb-nya deh,” bisikku padanya. Dan Ana pun membalas dengan senyumnya.
###
Udara Surabaya ini memang sangat menyiksaku, aku yang terlahir di daerah dingin yang dikelilingi pegunungan dan bukitg sangt tidak gterbiasa dengan cuaca panas, malahan sangat panas.

Bersambung...

Semangat dan teruslah berkarya, bagai seorang seniman yang mengabdikan karyanya untuk nusa dan bangsa dan agama... J 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar