Matahari belum menampakkan sinarnya. Langit
hitam pun masih menjadi kanvas yang indah untuk para bintang. Sebenarnya jam di
HP ku masih menunjukkan 04.30 am, tapi kokok ayam atau siulan burung tak
terdengar disini, Kota Metropolitan kedua yang hawanya sangat panas bagiku. Hal
ini berbeda dengan yang ku rasakan setiap pagi di kampung halamanku. Mungkin
jam terbang ayam-ayam dan burung-burung di kota berbeda dengan di desa.
Suasana asrama tempat tinggalku bersama 23
teman lainnya pun masih sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang setelah
selesai shalat malam setia menunggu waktu subuh dalam hamparan sajadahnya. Dan
aku bukan termasuk golongan mereka. Hmmmmmm, karena sebelum azan subuh
berkumandang aku sudah bersih diri dan bersiap dengan pakaian kuliah. Dan
setelah menunaikan shalat subuh, aku pun bersiap menuju kampus. Tak lupa dengan
ransel biru yang sudah berkali-kali ku jahit talinya karena terlalu sering ku
gunakan dalam serangkaian kegiatan kampusku. Tapi untuk menggantinya dengan
yang baru, aku masih terlalu sayang padanya. Tepat pada pukul 05.00 am, saat
pertama kali pintu gerbang di buka, akulah manusia pertama yang keluar dari
rumah bertingkat yang di jadikan asrama putri ini.
Teman-temanku sudah tak lagi heran jikalau
saat mereka baru akan bersiap memulai aktivitas, aku sudah tidak ada di sekitar
mereka. Karena mereka sudah tahu kapan dan kemana aku pergi. Ya, aku pasti ke
kampus kemudian duduk di gazebo, semacam pondok yang ada ada kursi dan meja
yang terbuat dari semen tempat biasa mahasiswa beristirahat dan langsung
berseluncur ke dunia maya. Begitulah urutannya, yang ku lakukan setiap hari dan
menjadi alasan untukku keluar dari asrama paling awal, dan seringkali kembali
ke asrama paling akhir. Aku pun jadi tahu kenapa teman-teman sekelas yang dipelopori
oleh Adit, menggelariku Miss Ngenet. Tapi bukan gelar itulah yang membuatku
betah. Karena selain aku lebih mudah untuk mengerjakan tugas dan mencari bahan
mata kuliah, jejaring sosial yang selalu pertama kali kubuka itu telah
mempertemukanku dengan seseorang. Aku pun menamainya Manusia Maya.
###
“Ra, Ruang berapa?” tiba-tiba ada sms dari Ana teman imutku.
“17” jawabku singkat sembari member tanda smile di ujungnya.
“Qm dah d kls?” balasnya
“Y, bntr lagi” jawabku dan tak lupa tanda smilenya lagi.
Tanpa sadar jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.30, mata kuliah
pertama tepat dimulai pukul 07.40. Bergegas ku rapikan laptop dan ku masukkan
ke ransel kesayangan, langkahku ku pun mantap menuju ruang kelas, agaknya Ana
sudah duluan sampai disana.
Benar dugaanku, tak hanya Ana, teman-teman lain pun sudah mulai
ramai. Kelas kami memang dikenal kelas yang unik. Dimulai dari masa setelah
orientasi dilaksanakan, kami yang tinggal satu asrama sudah secara naluriah berangkat
secara rombongan, dan tak hanya itu, yang terkadang bikin kami tertawa adalah
ketika kami menyadari bahwa tas ransel kami sekelas adalah sama, alias kembar.
Hal ini sangat mengesankan.
“An..” sapaku padanya, sambil senyum-senyum
“Pasti liat Manusia Mayamu itu lagi kan? Aku sudah hafal raut wajahmu
itu” jawabnya langsung tanpa jeda.
“Hehe” jawabku
“Hehe” ejeknya. “Eh tapi njgomong-ngomong siapa sih sebenarnya dia?
Jangan-jangan perempuan lagi, hahaha”.
“Ih,,,,, Ada namanya kok, cowok lagi.” Aku sebenarnya masih ingin
cerita panjang lebar tentang lelaki idamanku ini pada Ana, sahabatku yang imut
ini, tapi dalam perkuliahan dia sangat teliti dan cekatan dalam tugas. Tapi
dosen karena dose telah datang , pembicaraan pun terhenti.
“Nanti ku lihatkan fb-nya deh,” bisikku padanya. Dan Ana pun
membalas dengan senyumnya.
###
Udara Surabaya ini memang sangat menyiksaku, aku yang terlahir di
daerah dingin yang dikelilingi pegunungan dan bukitg sangt tidak gterbiasa
dengan cuaca panas, malahan sangat panas.
Bersambung...
Semangat dan teruslah berkarya, bagai seorang
seniman yang mengabdikan karyanya untuk nusa dan bangsa dan agama... J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar