Kamis, 17 Mei 2012

BERBAGI MATAHARI



Sudah lama aku berdiri di depan cermin, bukan dandan atau memperbaiki letak kacamata ataupun membetulkan bentuk kerudung.  Apa???

Emmm???? Apa lagi? Pulpen? Catatan? Duit? (hehe) yang terpenting adalah My Lovely Diary. Teman curhat yang selalu setia ku gelitik tiap saat, dimana saja, kapan saja, sangat setia. Karena sudah lengkap semua, maka aku pun beranjak meninggalkan kamar kost yang mungil, namun penuh makna ini. Itulah yang membuat ku betah tinggal di sini. Makna apa? Lain kali saja.

Gemuruh bis kota dan klakson seakan menjadi musik yang selalu menyambutku riang ketika keluar dari dari Gang Shaleh, tempatku tinggal. Sudah menjadi pemandangan biasa. Debu. Panas. Pekaknya mesin. Bagiku itu semua adalah nyanyian alami kehidupan pinggiran yang sekali lagi penuh makna. Makna apa lagi? Makna hidup,  penghidupan dan yang pasti kehidupan. Kehidupan yang saling berbagi, berbagi matahari.

# # #

Bu, pagi ini Na naik bis kota lagi seperti biasanya, Na kembali menyaksikan atraksi pengamen. Baju dan rambutnya sedikit kusut dan kusam, tapi senyum tetap berusaha ia tampakkan meski pahit. Ibu tahu apa yang dinyanyikannya bu? Lagu tentang ayah.

# # #

Bu, dalam perjalanan menuju kampus, Na melihat pengemis yang membawa serta anaknya bu, dalam kain gendongan yang sudah lusuh. Na menangis dalam hati bu. Merenung betapa kejamnya kehidupan yang amat bertopang pada konsekuensi dan esensi yang berkompetisi bu. Ana rindu ibu.

# # #

Bu, di kelas tadi Na sempat terlamun ketika teman-teman sibuk memperdebatkan sebuah teori yang berbahasa langit. Memang semalam Na belum mempelajarinya. Tapi apakah mereka pernah memikirkan juga teori bagaimana agar tidak ada lagi pengemis seperti yang Ana lihat tadi?

# # #

Bu, tadi di kampus Na melihat pak rektor, tapi hanya dibalik kaca sedannya yang mewah, dia tersenyum sedikit dan kembali menutup kaca jendelanya. Terkadang Na juga terpikir untuk menjadi dosen bahkan rektor, tapi Na tetap ingin menjadi seperti ibu, menjadi guru TK dan SD, lebih menyentuh. Ibu, senyum dan sejuta kasih ini untukmu.

# # #

Bu, dalam perjalanan pulang tadi Na kembali naik bis kota, macet dan gerah bu. Kasihan kondekturnya harus bolak balik depan belakang menagih ongkos, kasihan juga bisnya yang sudah tua dan peot sudut-sudutnya harus tetap membawa puluhan  penumpang. Tapi inilah sumber hidup. Sopir, kondektur, pengamen, pedagang, bahkan pegawai. Semua bisa saja bertopang pada lajunya bis ini. Sekali lagi Na dapat pelajaran bu.

Perjalanan menuju kost masih jauh, masih bisa menulis, gumamnya dalam hati.

# # #

Bu, DPR mau bikin gedung baru. Na geram bu, karena masih banyak warga kota apalagi di desa yang masih butuh kehidupan layak, buruh yang gajinya belum dibayar, bahkan Pak Jono, Pak Daus dan Pak Dadang harus tinggal satu atap beserta anak istri mereka karena sama-sama digusur. Na iba mendengar cerita mereka bu. Tapi sekarang mereka sudah mulai tersenyum dengan pekerjaan pemulung bu. Meski hasilnya sedikit, tapi mereka giat bu. Na senang bermain dengan anak-anak mereka, semuanya rajin bu. Ramadhan besok Na berencana mengadakan Baksos disana bu, bersama teman-teman universitas. Na mau mengajar disana bu. Karena dari mereka, Ana belajar arti hidup. Karena dari Ibu, Na belajar mensyukuri kehidupan.

# # #

Bu, Na bermimpi, pulang dan menyalami ibu dan adik-adik. Tapi ayah belum pulang dari kantor. Tapi setelah itu mimpinya hilang bu, hanya sebatas pintu kamar tidur. Esoknya Na mimpi yang sama, ibu dan adik-adik tengah bermain dihalaman. Ana kembali menyalami, dan kali ini ayah datang sebelum akhirnya Na kembali hilang bu. Tanpa sadar air mata ini jatuh bu. Ana menangis.

# # #

Kukuruyyyyuuuuuuuuuk ...!!!!!

Astaghfirullah... mimpi? Benar mimpi?. Ku coba tersenyum dan segera mengambil diari. Catatan terakhir berjudul “ gedung baru DPR”, jadi benar mimpi? Langsung ku lihat jam tangan. Baiklah, ibu, apa yang akan ditulis anakmu hari ini???. Matahari juga telah membagi sedikit cahayanya kedalam kamar Ana seperti tulisannya.

 

Oleh mawar berduri

Ditulis segera setelah sembuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar