Rabu, 24 April 2013

Cinta Tanpa Kata Cinta


Pendiam. Namun hanya untukku. Tak banyak tingkah. Namun hanya untukku. Aku diperlakukan berbeda dengan teman-temannya. Setahuku, dia adalah orang yang suka humor dan sering “gila-gila”an. Tapi ku harap segala puisi indah dan ucapan selamat tidur yang dia kirimkan setiap malam, juga hanya untukku. Banyak hal yang kuumpamakan tentangnya. Pooh, kakak gendut, semuanya pertanda terima kasihku atas segala kebaikannya. Ia tak pernah mengumbar janji atau mengirimkan bunga mawar merah, hanya sebuah al-Quran yang menjadi kenangan darinya hingga saat ini. Senyum dalam diam, hanya itu yang sering dia tunjukkan padaku. Dan satu lagi yang baru ku tahu, ternyata dia sering mencuri pandang dari jauh, begitulah yang sering dilaporkan teman-teman padaku. Walaupun sekarang aku tak lagi bisa melihatnya dan aku tak tahu bagaimana kabar cinta yang disimpan dalam hatinya, aku hanya memahami satu hal, cinta tak harus dipenuhi kata-kata cinta.

Bintu muslim adalah nama pena dari Wardatun Nabilah. Saat ini masih belajar dalam kepenulisan. Bisa di temui di @nabil_tuing atau Hanya Nabielsendiri. Email: nabil_just@yahoo.co.id
n (3).jpg

Hatiku Telah Basah


Hatiku telah basah

Sebasah hujan, menggenang-genang

Hatiku telah basah

Sesebak tangisan, mendesah-desah

Hatiku telah basah

Sekedar kenangan, yang kini telah berubah

Mengharukan, kenangan tinggal kenangan

Hatiku telah basah

Teringat langkah bersamaan, di bawah hujan

Disaksikan rembulan 

Hatiku telah basah

Belajar Dari Mana Saja

Mataku mulai bosan memandangai layar tv sebesar telapak tangan, punggung juga terasa mulai panas dan mulai tak tenang, yah, bosan. Ada hal lain yang ku rasakan malam ini, tanganku sudah gatal lagi untuk menyentuh tus keyboard laptop yang telah lama mati suri karena aku yang kehilangan gairah menulis. Entah cerita apa yang ku buat, rasanya aku hanya merubah setiap gumaman dalam kepala menjadi rangkaian huruf sehingga menghasilkan suatu kalimat yang tertulis, tentu saja dengan bantuan jari-jemari yang tak henti menari. Bahkan kebiasaan ini hampir membuatku hafal dimana letak para huruf yang terbungkus kotak persegi empat dan berjejer tak berurut dalam keyboard. Aku jadi berpikir kenapa tidak berurut sesuai alfabet ya? Apa anda juga pernah memikirkannya?.

Sekali lagi aku mengenang perkataan seorang teman, yang sebanarnya usianya lebih tua dariku, namun dia adik tingkat dalam kuliahku, dia berkata apabila ada yang terpikirkan, tuliskan saja. Aku lupa susunan katanya secara persis, tapi kira-kira begitulah intinya. Akhir-akhir ini aku sering menulis catatan fb. Tak tahu mengapa, kalau aku menulis di word, kata-kataku terasa hilang, apakah mungkin karena di word tidak ada tulisan "Terbitkan"?.

Aku menoleh ke arah belakang, ku lihat telepon genggam tersudut sendirian di dekat bantal. Ada rasa kasihan aku melihatnya, niat hati ingin mengambilnya, ada film yang sedang ku tonton di sana, namun tanganku masih gatal untuk menari. Tapi aku akhirnya aku mengambilnya.

Kuletakkan headset di telinga, sebenarnya telingaku sebelah kanan sudah mengaung sakit karena aku jarang tidak memakai pendengar suara ini, aku tak suka keributan atau mendengar suara-suara lain ketika aku sedang beraktivitas apalagi tidur, aku memang ingin sendiri, atau lebih singkatnya headset memebuatku merasa aku menikmati hidupku tanpa gangguan apapun. Ku sentuh layar yang selebar telapak tangan itu dan ku buka tv analog yang ada pada menu, ternyata film sudah di putar. Born To Be King, itu judulnya. Diawali dari cerita mimpi seorang lelaki yang teringat tentang seorang wanita yang sepertinya pernah hadir dalam hidupnya samapai akhirnya wanita itu pergi karena suatu kecelakaan yang membawa pada kematian, sepertinya cerita akan sengit. Tapi aku tak akan membuat resensi film di sini, aku hanya memikirkan, atau lebih tepat ingin tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang kini hadir dalam kehidupan lelaki itu sementara ingatannya masih tertancap pada masa lalunya. Entahlah, lihat bagaimana akhirnya saja.

lalu klimaks catatan ini apa?
Entahlah, yang penting aku telah membaca cerpen dalam antologi dan aku menulis, tertarik menulis. Anggap saja aku mempraktekkan apa yang ku dapat dari membaca cerpen, aku membaca cerpen, aku belajar dan aku menulis. Itu saja. hehe.

Dan ternyata panjang juga ya, dan aku pun akan berlatih lagi, em, sepertinya belum usai.
MUdah-mudahan.


Halimah Namanya

Seorang pemuda menulis dengan penerangan lampu minyak di tengah ruangan yang berlantai kayu. Angin berhembus sangat lambat menyentuh api. Bayangan pena berubah-ubah tempat karena angin. Matanya sangat tajam masa depan. Tertuai dalam setiap kata dan kalimat yang telah kering tintanya. Hening.

Dari belakang sesosok wanita berkerudung biru menghampiri dengan segelas teh di tangannya. Langkahnya pasti menuju pemuda yang tengah khusuk dalam lautan kata. Diletakkannya lah secangkir teh tadi di hadapan pemuda yang entah menyadari kehadirannya entah tidak. Sambil tersenyum ia pun berkata,

"Uda, malam telah larut, apa juga  yang masih menjanggal dalam hati uda?, tak usah uda risaukan dalam tulisan, adik siap mendengarkan." Ucapnya membujuk.

Segera tersadar pemuda tadi dari ke-khusuk-annya dari lembaran-lembaran di hadapannya. Tak ayal lelaki itu pun meletakkan pena tintanya. Dipandangnya wanita di hadapannya itu. Yang sejenak langsung menghilangkan penat di pundaknya. Halimah namanya.

Bersambung.

Menunggu Hujan

"Belum pulang mbak?"

Sapa Nia mengejutkan lamunan Ayu yang lama terdiam di depan komputer layar datar yang ada di sudut kantor. Sekolah sudah lengang, tak ada lagi ruih anak-anak yang terdengar, atau pun cerita para guru. Cuaca di luar pun sebenarnya agak mendung, nyaris hujan. Namun Ayu masih menatap layar datar itu sampai Nia, guru bahasa indonesia itu mengejutkannya.

"Ah, kamu Nyak," Nyak, sapaan akrab Nia di sekolah-an.

"Lembur mbak?", tanyanya sembari menghampiri Ayu, ada nada penasaran dari geraknya yang menghampiri komputer.

Belum ada jawaban dari Ayu, namun Nia sudah mendapatkan jawabannya, sambil mencubit kecil pundak Ayu.

"Apa sih Nyak?, kamu sendiri kok balik? Perasaan tadi ikut rombongan Bu Rani?.''

Karena musim ujian baru saja usai, jadi jadwal belajar mengajar belum terlalu padat, dan para ibu guru pun membuat acara semacam arisan di rumah Bu Rani, guru yang paling hobi memasak, sekalipun beliau mengampu pelajaran Matematika.

"Ini mbak, tugas anak-anak kelupaan, nanti Nia nyusul, lagian masih abis ashar kok, mbak nggak ikut?."

"Enggak, lagi pengen nyendiri aja, lagian nanti takut ditanyain hal yang sama berkali-kali," jawab Ayu yang seakan berakhir nada minor, atau melow atau apa saja yang bermakna sedih. Pertanyaan yang berkali-kali kini sering ditanyakan dewan guru kepadanya, entah mengapa sering kali membuat Ayu yang tadinya santai dan menganggap guyonan, sekarang sedikit membuatnya tidak nyaman.

"Hem,,, mumpung sepi, ngeteh yuk mbak, Nia pinter bikin teh loh...," Nia pun beranjak menuju lemari kecil di sudut ruangan tanpa menunggu persetujuan Ayu. Dalam keadaan ini, Ayu seperti diperlakukan sebagai orang sakit bagi Nia. Adik curhatnya.

Bersambung

Senin, 21 Mei 2012

Tangisan Surau Dermaga Suramadu (Part 1)


Malam ini rasanya telah jauh ku melangkah. Memaksakan kaki terus menapaki jalan berkerikil ini. Sebenarnya aku pun tak tahu mau kemana dan jalanan ini bukan jalan setapak yang tak banyak dilalui orang. Jalan ini selalu ramai dan padat. Bagaimana tidak, wilayah ini adalah jalan yang berdekatan dengan kampus dan banyak kost-kostan. Penjaja makanan telah berjejer siap menunggu pembeli, kendaraan hilir mudik memenuhi setiap persimpangan jalan, lampu-lampu motor dan mobil sangat menyilaukan mata . Pejalan kaki juga mondar mandir dengan bawaan di tangannya masing-masing. Suasananya ramai, tapi bagiku tetap sepi. Sebuah ironi yang seringkali ku rasakan ketika mood lagi posisi buruk. Entah apa yang kurasakan saat ini, tidak jelas. Yang kutahu pasti, kuterus melanjutkan perjalanan mungkin sekitar 2 jam sebelum jam tanganku menunjukkan 21.00, waktu harus kembali ke kamar kost. Haaaaaah….. mendesah mengingat betapa tidak tenangnya hatiku malam ini. Terkadang pikiran seperti ini membawaku kembali mengingatnya.

bersambung ......

Kamis, 17 Mei 2012

BERBAGI MATAHARI



Sudah lama aku berdiri di depan cermin, bukan dandan atau memperbaiki letak kacamata ataupun membetulkan bentuk kerudung.  Apa???

Emmm???? Apa lagi? Pulpen? Catatan? Duit? (hehe) yang terpenting adalah My Lovely Diary. Teman curhat yang selalu setia ku gelitik tiap saat, dimana saja, kapan saja, sangat setia. Karena sudah lengkap semua, maka aku pun beranjak meninggalkan kamar kost yang mungil, namun penuh makna ini. Itulah yang membuat ku betah tinggal di sini. Makna apa? Lain kali saja.

Gemuruh bis kota dan klakson seakan menjadi musik yang selalu menyambutku riang ketika keluar dari dari Gang Shaleh, tempatku tinggal. Sudah menjadi pemandangan biasa. Debu. Panas. Pekaknya mesin. Bagiku itu semua adalah nyanyian alami kehidupan pinggiran yang sekali lagi penuh makna. Makna apa lagi? Makna hidup,  penghidupan dan yang pasti kehidupan. Kehidupan yang saling berbagi, berbagi matahari.

# # #

Bu, pagi ini Na naik bis kota lagi seperti biasanya, Na kembali menyaksikan atraksi pengamen. Baju dan rambutnya sedikit kusut dan kusam, tapi senyum tetap berusaha ia tampakkan meski pahit. Ibu tahu apa yang dinyanyikannya bu? Lagu tentang ayah.

# # #

Bu, dalam perjalanan menuju kampus, Na melihat pengemis yang membawa serta anaknya bu, dalam kain gendongan yang sudah lusuh. Na menangis dalam hati bu. Merenung betapa kejamnya kehidupan yang amat bertopang pada konsekuensi dan esensi yang berkompetisi bu. Ana rindu ibu.

# # #

Bu, di kelas tadi Na sempat terlamun ketika teman-teman sibuk memperdebatkan sebuah teori yang berbahasa langit. Memang semalam Na belum mempelajarinya. Tapi apakah mereka pernah memikirkan juga teori bagaimana agar tidak ada lagi pengemis seperti yang Ana lihat tadi?

# # #

Bu, tadi di kampus Na melihat pak rektor, tapi hanya dibalik kaca sedannya yang mewah, dia tersenyum sedikit dan kembali menutup kaca jendelanya. Terkadang Na juga terpikir untuk menjadi dosen bahkan rektor, tapi Na tetap ingin menjadi seperti ibu, menjadi guru TK dan SD, lebih menyentuh. Ibu, senyum dan sejuta kasih ini untukmu.

# # #

Bu, dalam perjalanan pulang tadi Na kembali naik bis kota, macet dan gerah bu. Kasihan kondekturnya harus bolak balik depan belakang menagih ongkos, kasihan juga bisnya yang sudah tua dan peot sudut-sudutnya harus tetap membawa puluhan  penumpang. Tapi inilah sumber hidup. Sopir, kondektur, pengamen, pedagang, bahkan pegawai. Semua bisa saja bertopang pada lajunya bis ini. Sekali lagi Na dapat pelajaran bu.

Perjalanan menuju kost masih jauh, masih bisa menulis, gumamnya dalam hati.

# # #

Bu, DPR mau bikin gedung baru. Na geram bu, karena masih banyak warga kota apalagi di desa yang masih butuh kehidupan layak, buruh yang gajinya belum dibayar, bahkan Pak Jono, Pak Daus dan Pak Dadang harus tinggal satu atap beserta anak istri mereka karena sama-sama digusur. Na iba mendengar cerita mereka bu. Tapi sekarang mereka sudah mulai tersenyum dengan pekerjaan pemulung bu. Meski hasilnya sedikit, tapi mereka giat bu. Na senang bermain dengan anak-anak mereka, semuanya rajin bu. Ramadhan besok Na berencana mengadakan Baksos disana bu, bersama teman-teman universitas. Na mau mengajar disana bu. Karena dari mereka, Ana belajar arti hidup. Karena dari Ibu, Na belajar mensyukuri kehidupan.

# # #

Bu, Na bermimpi, pulang dan menyalami ibu dan adik-adik. Tapi ayah belum pulang dari kantor. Tapi setelah itu mimpinya hilang bu, hanya sebatas pintu kamar tidur. Esoknya Na mimpi yang sama, ibu dan adik-adik tengah bermain dihalaman. Ana kembali menyalami, dan kali ini ayah datang sebelum akhirnya Na kembali hilang bu. Tanpa sadar air mata ini jatuh bu. Ana menangis.

# # #

Kukuruyyyyuuuuuuuuuk ...!!!!!

Astaghfirullah... mimpi? Benar mimpi?. Ku coba tersenyum dan segera mengambil diari. Catatan terakhir berjudul “ gedung baru DPR”, jadi benar mimpi? Langsung ku lihat jam tangan. Baiklah, ibu, apa yang akan ditulis anakmu hari ini???. Matahari juga telah membagi sedikit cahayanya kedalam kamar Ana seperti tulisannya.

 

Oleh mawar berduri

Ditulis segera setelah sembuh